Pages

Senin, 11 Februari 2013

Novel Bea Tunangan Euy !



Bea Tunangan, euy !
Novel Teenlit Karya Anjar Anastasia

Ya seperti biasa novel remaja bergenre teenlit yang lain, suka menceritakan sisi kehidupan remaja pada umumnya. Tetapi, konflik pada karya Anjar Anastasia kali ini kurang kompleks. Sehingga membuat pembaca hampir bosan dengan alur ceritanya dan sudut pandang yang tidak jelas. Di awal cerita, menggunakan sudut pandang ketiga lalu di bagian tengah cerita, ada kata “aku” yang mewakili perasaan tokoh bernama Cilla. Selanjutnya, terlintas di benak saya bahwa dalam hal ini, Cilla identik dengan pengalaman pribadi sang penulis. Akan tetapi setelah berlanjut ke alur selanjutnya, sudah tak ada lagi kata aku dalam kalimat manapun.

Dalam mengarang memang dibebaskan untuk menuangkan apa saja yang dikehendaki. Apalagi untuk menulis sebuah karangan fiksi yang dipandang tak mungkin menjadi mungkin. Menurut saya, hal yang tidak masuk akal dalam novel yang tebalnya 175 halaman ini adalah adanya pertunangan Bea yang masih duduk di bangku SMA dengan Ramol yang super sibuk dengan segudang aktivitas di kampusnya. Mereka sudah dijodohkan sejak kecil karena orang tua mereka saling dekat satu sama lain. Sebelum Ramol pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya, pertunangan pun dilaksanakan dengan hanya dihadiri oleh kerabat-kerabat dekatnya saja. Dan yang menurut saya aneh coba fikir deh Kok ya orang tua Bea setuju-setuju saja anaknya yang masih SMA itu bertunangan?? Kalau dari pihak Ramol dan keluarganya mungkin tak masalah mengingat Ramol sudah dewasa dan matang. Padahal konflik-konflik yang ada dalam novel ini hanya seputar Bea dan Ramol dimana Bea lebih banyak menanggung masalahnya. Nah, apakah orang tua Bea tidak sampai berpikir kearah situ? Bahwa gadis sebelia Bea masih terlalu dini untuk menerima dan menghadapi permasalahan yang bersangkutan dengan tunangan.

Namun, ending dari cerita ini cukup menyentuh karena berakhir bahagia. Namanya juga novel, karya sastra Bergenre fiksi yang lebih mengedepankan emosional daripada logika. Karena itulah 90% novel-novel yang bertema cinta menjadi santapan kedua bagi kaum hawa setelah nasi.

1 komentar:

  1. Terimakasih untuk ulasannya...
    Cuma ingin menanggapi yg soal dugaanmu hehe...
    Cerita ini saya buat tahun 1995 lalu, aslinya tidak "sekompleks" ini. Soal "dugaanmu" itu sama sekali tidak benar. Cerita ini sebagian memang cerita dari seorang anak SMA (pada masa itu) dan saya kembangkan sendiri. Kebetulan pekerjaan saya sendiri memang mendampingi orang muda, jadi cerita begini sudah biasa :D

    Sekali lagi terima kasih ya...

    BalasHapus