Bea Tunangan, euy !
Novel Teenlit Karya Anjar Anastasia
Ya seperti biasa novel remaja bergenre teenlit yang lain,
suka menceritakan sisi kehidupan remaja pada umumnya. Tetapi, konflik pada
karya Anjar Anastasia kali ini kurang kompleks. Sehingga membuat pembaca hampir
bosan dengan alur ceritanya dan sudut pandang yang tidak jelas. Di awal cerita,
menggunakan sudut pandang ketiga lalu di bagian tengah cerita, ada kata “aku”
yang mewakili perasaan tokoh bernama Cilla. Selanjutnya, terlintas di benak
saya bahwa dalam hal ini, Cilla identik dengan pengalaman pribadi sang penulis.
Akan tetapi setelah berlanjut ke alur selanjutnya, sudah tak ada lagi kata aku
dalam kalimat manapun.
Dalam mengarang
memang dibebaskan untuk menuangkan apa saja yang dikehendaki. Apalagi untuk
menulis sebuah karangan fiksi yang dipandang tak mungkin menjadi mungkin.
Menurut saya, hal yang tidak masuk akal dalam novel yang tebalnya 175 halaman
ini adalah adanya pertunangan Bea yang masih duduk di bangku SMA dengan Ramol
yang super sibuk dengan segudang aktivitas di kampusnya. Mereka sudah
dijodohkan sejak kecil karena orang tua mereka saling dekat satu sama lain.
Sebelum Ramol pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya, pertunangan pun
dilaksanakan dengan hanya dihadiri oleh kerabat-kerabat dekatnya saja. Dan yang
menurut saya aneh coba fikir deh Kok ya orang tua Bea setuju-setuju saja
anaknya yang masih SMA itu bertunangan?? Kalau dari pihak Ramol dan keluarganya
mungkin tak masalah mengingat Ramol sudah dewasa dan matang. Padahal
konflik-konflik yang ada dalam novel ini hanya seputar Bea dan Ramol dimana Bea
lebih banyak menanggung masalahnya. Nah, apakah orang tua Bea tidak sampai
berpikir kearah situ? Bahwa gadis sebelia Bea masih terlalu dini untuk menerima
dan menghadapi permasalahan yang bersangkutan dengan tunangan.

Terimakasih untuk ulasannya...
BalasHapusCuma ingin menanggapi yg soal dugaanmu hehe...
Cerita ini saya buat tahun 1995 lalu, aslinya tidak "sekompleks" ini. Soal "dugaanmu" itu sama sekali tidak benar. Cerita ini sebagian memang cerita dari seorang anak SMA (pada masa itu) dan saya kembangkan sendiri. Kebetulan pekerjaan saya sendiri memang mendampingi orang muda, jadi cerita begini sudah biasa :D
Sekali lagi terima kasih ya...